Recent twitter entries...

Teori Konstruktivistik

Banyak teori belajar yang bisa digunakan sekarang ini. tapi di zaman modern ini kayaknya teori Konstruktivistik yang paling cocok. pengen tau tentang Teori ini. baca makalah ini ya...

TEORI KONSTRUKTIVISTIK


1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Belajar merupakan suatu tindakan dan perilaku siswa yang sangat kompleks dalam mencari dan menerima suatu ilmu pengetahuan. Dalam belajar terdapat interaksi antara guru (pendidik) dengan siswa (peserta didik) untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran akan tercapai jika penerapan pembelajaran sesuai dengan kondisi peserta didik yang beragam.
Selama ini proses belajar hanya bertumpu kepada pendidik sebagai sumber utama, sehingga peserta didik kurang terlibat dalam pembelajaran, karena peserta didik dikatakan belajar apabila mereka mampu mengingat dan menghafal informasi atau pelajaran yang telah disampaikan. Pembelajaran seperti ini tidak akan membuat peserta didik menjadi aktif, mandiri dan mengembangkan pengetahuannya berdasarkan pengalaman belajar yang telah mereka lakukan. Sedangkan seiring kemajuan zaman dan teknologi, dibutuhkan SDM (Sumber Daya Manusia) dengan karakteristik yang baik. Karakteristik manusia masa depan yang dikehendaki adalah manusia-manusia yang memiliki kepekaan, kemandirian, tanggung jawab terhadap resiko dalam mengambil keputusan, dan mengembangkan segenap aspek potensi melalui proses belajar untuk menemukan diri sendiri dan menjadi diri sendiri.
Langkah strategis bagi perwujudan tujuan di atas adalah adanya layanan ahli kependidikan yang berhasil guna dan berdaya guna tinggi, seperti student active learning. Penerapan ajaran tut wuri handayani juga merupakan wujud nyata yang bermakna bagi manusia masa kini dalam rangka menjemput masa depan. Untuk melaksanakannya diperlukan penanganan yang memberikan perhatian terhadap aspek strategis pendekatan yang tepat ketika individu belajar. Kajian terhadap teori belajar konstruktivistik dalam kegiatan belajar dan pembelajaran memungkinkan menuju kepada tujuan tersebut.
Teori belajar konstruktivistik merupakan pembelajaran yang menekankan pada proses dan lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide peserta didik. Teori ini juga memandang kebebasan sebagai penentu keberhasilan belajar. Pengetahuan menurut teori konstruktivistik bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya. Sehingga dalam upaya membangun sumber daya manusia di masa depan yang peka, mandiri, dan tanggung jawab serta memiliki potensi yang tinggi bisa tercapai. Dengan kata lain, pendidikan ditantang untuk memusatkan perhatian pada terbentuknya manusia masa depan yang memiliki karakteristik sesuai harapan.

1. 2 Rumusan Masalah
a. Apakah pengertian pembelajaran konstruktivistik dan aspek-aspeknya?
b. Bagaimana proses belajar menurut teori konstruktivistik?
c. Mengapa pembelajaran konstruktivistik dianggap mampu dalam peningkatan mutu pendidikan nasional?

1.3 Tujuan
a. Menjelaskan pengertian dan aspek-aspek pembelajaran konstruktivistik.
b. Menjelaskan proses belajar teori konstruktif.
c. Menjelaskan alasan pembelajaran konstruktivistik dianggap mampu dalam peningkatan mutu pendidikan nasional.

















2. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pembelajaran Konstruktivistik dan Aspek-aspeknya
Pembelajaran konstruktivistik merupakan pembelajaran yang lebih menekankan pada proses dan kebebasan dalam menggali pengetahuan serta upaya dalam mengkonstruksi pengalaman. Dalam proses belajarnya pun, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga siswa menjadi lebih kreatif dan imajinatif serta dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Oleh karena itu pembelajaran ini dianggap dan diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan nasional saat ini.
Hakikat pembelajaran konstruktivistik oleh Brooks & Brooks dalam Degeng mengatakan bahwa pengetahuan adalah non-objective, bersifat temporer, selalu berubah, dan tidak menentu. Belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar berarti menata lingkungan agar peserta didik atau siswa termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini maka siswa akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergentung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.
Selanjutnya beberapa aspek konstruktivistik menurut Fornot adalah sebagai berikut: (1) adaptasi (adaptation), (2) konsep pada lingkungan (the concept of envieronmet), dan (3) pembentukan makna (the construction of meaning). Dari ketiga aspek tersebut oleh J. Piaget diperbarui yaitu adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Proses asimilasi akan terus berjalan dan tidak akan menyebabkan perubahan atau pergantian skemata melainkan perkembangan skemata. Karena asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru.
Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Penyebabnya dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman barunya dengan skemata yang telah dipunyai, karena pengalaman barunya sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada.
Bagi Piaget, adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Karena bila dalam proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya maka terjadilah ketidaksetimbangan (disequilibrium).

2.2 Proses Belajar Menurut Teori Konstruktiivistik
Proses belajar sangat berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan peserta didik, karena pengetahuan yang telah diperoleh dan dimiliki seseorang akan membentuk suatu jaringan struktur kognitif dalam dirinya. Pada bagian ini akan membahas proses belajar dari pandangan konstruktivistik, baik dari aspek-aspek si-belajar, peranan guru, sarana belajar, dan evaluasi belajar.
Proses belajar konstruktivistik. Menurut paham konstruktivisme, manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan cara mencoba, memberi arti pada pengetahuan sesuai dengan pengalamannya. Esensi dari teori konstruktivistik adalah siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Sehingga dalam proses belajar, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka dengan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
Pengelolaan pembelajaran konstruktivistik harus diutamakan pada pengelolaan siswa dalam memperoleh gagasannya, bukan semata-mata pada pengelolaan siswa dan lingkungan belajarnya bahkan pada prestasi belajarnya yang dikaitkan dengan sistem penghargaan dari luar seperti nilai, ijazah, dan sebagainya. Karena ibaratnya siswa lahir dengan pengetahuan masih kosong, mencoba melakukan interaksi dengan orang lain dan lingkungan sehingga siswa mendapat pengetahuan awal yang diproses dari pengalaman belajar untuk memperoleh pengetahuan yang baru.
Peranan Siswa (Si-belajar). Menurut teori konstruktivistik, belajar adalah proses pemaknaan atau penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Proses tersebut harus dilakukan oleh siswa (Si-belajar), karena pembelajaran konstruktivistik lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan si belajar. Sehingga siswa bisa memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan yang dipelajari.
Dalam pembelajaran konstruktivistik, siswa menjadi pusat kegiatan dan guru sebagai fasilitator. Akan tetapi kadang guru harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan agar terbentuk proses belajar yang optimal sehingga siswa termotivasi untuk belajar dan menggali informasi. Namun pada akhirnya yang paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar dari siswa itu sendiri. Dengan kata lain, bahwa pada dasarnya hakekat kendali belajar sepenuhnya ada pada siswa.
Peranan Guru. Dalam proses belajar konstruktivistik, guru atau pendidik berperan sebagai fasilitator artinya membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri dan proses pengkonstruksian pengetahuan berjalan lancar. Guru tidak mentransferkan pengetahuan yang dimilikinya pada siswa tetapi dituntut untuk memahami jalan pikiran aatau cara pandang setiap siswa dalam belajar.
Peranan utama guru dalam interaksi pendidikan adalah pengendalian, yang meliputi :
a. Menumbuhkan kemandirian pada siswa dengan memberikan kesempatan untuk bertindak dan mengambil keputusan.
b. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan siswa agar dapat melakukan sesuatunya dengan baik.
c. Memberikan kemudahan dalam belajar dengan menyediakan fasilitas yang mendukung dan memberi peluang yang optimal bagi siswa.
Sarana belajar. Pusat kegiatan pembelajaran konstruktivistik adalah siswa. Dalam proses belajar, siswa berusaha menggali dan membentuk pengetahuannya sendiri serta bebas dalam mengungkapkan pendapat dan pemikirannya. Sehingga segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu proses belajar tersebut. Dengan demikian, siswa akan terbiasa dan terlatih untuk berpikir sendiri, mandiri, kritis, kreatif dan mampu bertanggung jawab.
Evaluasi belajar. Lingkungan belajar dimana kegiatan belajar dilaksanakan sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas. Sedangkan menurut pandangan konstruktivistik, realitas ada pada pikiran seseorang, sehingga manusia mengkonstruksi dan menginterpretasikannya berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya sendiri.
Pandangan konstruktivistik menggunakan goal-free evaluation, yaitu suatu konstruksi untuk mengatasi kelemahan evaluasi pada tujuan spesifik. Evaluasi yang digunakan untuk menilai hasil belajar konstruktivistik, memerlukan proses pengalaman kognitif bagi tujuan-tujuan konstruktivistik. Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dan menekankan pada keterampilan proses dalam kelompok. Bentuk-bentuk evaluasi ini dapat diarahkan pada tugas-tugas autentik, tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata serta mengkonstruksi pengetahuan yang menggambarkan proses berpikir yang lebih tinggi dan mengkonstruksi pengalaman siswa dan mengarahkannya pada konteks yang lebih luas.

2.3 Alasan Pembelajaran Konstruktivistik Dianggap Mampu Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Nasional.
Proses pembelajaran akan efektif jika diketahui inti kegiatan belajar yang sesungguhnya. Kegiatan pembelajaran yang selama ini berlangsung (teori behavioristik), banyak didominasi oleh guru. Pengajarannya didasarkan pada gagasan atau konsep-konsep yang sudah dianggap pasti atau baku. Guru menyampaikan materi pelajaran dengan ceramah dan banyak menggantungkan buku teks. Alternatif-alternatif perbedaan interpretasi di antara siswa terhadap fenomena sosial yang kompleks tidak dipertimbangkan, sehingga siswa belajar dalam isolasi yang mempelajari kemampuan tingkat rendah dengan cara melengkapi buku tugasnya setiap hari.
Berbeda dengan bentuk pembelajaran di atas, pembelajaran konstruktivistik membantu siswa menginternalisasi dan mentransformasi informasi baru. Pendekatan ini lebih luas dan sukar untuk dipahami, karena melihat apa yang dapat dihasilkan siswa, didemonstrasikan dan ditunjukkan. Selain itu ada beberapa hal yang mendapat perhatian dari pembelajaran konstruktivistik, yaitu :
a. mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan,
b. mengutamakan proses,
c. menanamkan pembelajaran dalam konteks pengalaman sosial,
d. pembelajaran dilakukan dalam upaya mengonstruksi pengalaman.
Pembelajaran konstruktivistik memiliki beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan pembelajaran yang lain, diantaranya :
1. Tujuan pembelajaran ditekankan pada belajar bagaimana belajar (learn how to learn),
2. Penyajian isi menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna,
3. Pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan peserta didik atau siswa,
4. Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada keterampilan berpikir kritis,
5. Pembelajaran menekankan pada proses.
Selain itu ada beberapa perbedaan antara pembelajaran konstruktivistik dengan pembelajaran yang selama ini digunakan (behavioristik) antara lain dipandang dari :
Pandangan Tentang Pengetahuan, Belajar dan Pembelajaran
Behavioristik Konstruktivistik
Pengetahuan : objektif, pasti, tetap Pengetahuan : non- objektif, temporer, selalu berubah
Belajar : perolehan pengetahuan Belajar : pemaknaan pengetahuan
Mengajar: memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar Mengajar : menggali makna
Mind berfungsi sebagai alat penjiplak struktur pengetahuan Mind berfungsi sebagai alat menginterpretasi sehingga muncul makna yang unik
Si pembelajar diharapkan memiliki pemahaman yang sama dengan pengajar terhadap pengetahuan yang dipelajari Si pembelajar bisa memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan yang dipelajari
Segala sesuatu yang ada di alam telah terstruktur, teratur, rapi.
Pengetahuan juga sudah terstruktur rapi Segala sesuatu bersifat temporer, berubah, dan tidak menentu.
Kitalah yang memberi makna terhadap realitas

Masalah Belajar dan Pembelajaran: Strategi Pembelajaran
Behavioristik Konstruktivistik
Keterampilan terisolasi Penggunaan pengetahuan secara bermakna
Mengikuti urutan kurikulum ketat Mengikuti pandangan si Pembelajar
Aktivitas belajar mengikuti buku teks Aktivitas belajar dalam konteks nyata
Menekankan pada hasil Menekankan pada proses

Masalah Belajar dan Pembelajaran: Evaluasi
Behavioristik Konstruktivistik
Respon pasif Penyusunan makna secara aktif
Menuntut satu jawaban benar Menuntut pemecahan ganda
Evaluasi merupakan bagian terpisah dari belajar Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa konstruktivistik merupakan pembelajaran yang menganut ketidakteraturan, ketidakpastian, kesemrawutan artinya peserta didik harus bebas. Karena kebebasan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar, akan tetapi siswa sebagai subjek harus mampu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar. Sehingga teori konstruktivistik diharapkan mampu membuat manusia masa depan yang berkarakter, yaitu manusia yang memiliki kepekaan, kemandirian, tanggung jawab terhadap resiko dalam mengambil keputusan, dan mampu mengembangkan segenap potensi yang ada pada dirinya.


3. KESIMPULAN
1. Pembelajaran konstruktivistik merupakan suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, dimana pembelajarannya menekankan pada proses dan pemahaman serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berpendapat.
2. Aspek-aspek konstruktivistik antara lain : (1) adaptasi (adaptation), (2) konsep pada lingkungan (the concept of envieronmet), dan (3) pembentukan makna (the construction of meaning).
3. Dalam pembelajaran konstruktivistik dibutuhkan peranan siswa, guru, penyediaan sarana belajar yang baik serta evaluasi untuk mencapai hasil yang maksimal.
4. Beberapa kelebihan pembelajaran konstruktivistik, yaitu :
a. Tujuan pembelajaran ditekankan pada belajar bagaimana belajar (learn how to learn),
b. mengutamakan proses,
c. Pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan peserta didik atau siswa,
d. Penyajian isi menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna.


Comments (0)

Poskan Komentar